“My Music Is Good Music”

      LUNCURKAN REKAMAN “LIVE” DUA FORMAT

SUDAH menjadi cerita umum, sebagian besar penyanyi atau grup musik yang main regular di tempat hiburan cenderung pasif dalam berkarya. Waktu lebih banyak habis untuk “ngamen”, membawakan karya orang lain atau lagu-lagu Top 40. Karenanya, sekalipun ada niat untuk membuat karya sendiri dan merekamnnya, namun tak kunjung terwujud. Namun pemikiran dan kondisi demikian tak berlaku bagi Rio Sidik. Satu album berjudul “The Sound of Mystical Vibe” baru saja diluncurkannya akhir pekan lalu.

Iya, bertahun-tahun Rio Sidik yang selain lekat dengan alat musik terumpet juga menyanyi, malang melintang di berbagai tempat hiburan tak hanya di Bali, namun juga sempat main di sejumlah negara seperti Australia, Malaysia, Portugal, Spanyol, Inggris, Rusia, Korea Selatan, hingga Amerika Serikat. Sempat bergabung dengan grup semisal JIWA, Saharadja, Rio juga projek sendiri yang diberi nama Rio Sidik and His Quintet. Bersama Ito Kurdi (bass), Edy Siswanto (drum), Jeko Fauzi (gitar), Andy Sulaiman (piano, keyboard), Rio masih aktif menghibur tamu di club dan restaurant di seputaran Kuta, Seminyak, Batu Belig. Turut pula mengisi vokal latar, Ade Fabiola Van Elten dan Winny Jessica.

Di Tengah aktivitas manggung itulah, Rio menggarap sejumlah komposisi musik sendiri, yang kemudian dituangkannya ke dalam album “The Sound of Mystical Vibe”. Ada sejumlah keistimewaan dari album yang secara resmi diperkenalkan ke public dalam satu pertunjukan di Mozaic Club, Batubelig, Sabtu 22 November lalu. Misalnya saja sembilan nomor lagu yang ada direkam secara live. Hasilnya kemudian dikemas dalam satu paket album yang berupa keping CD audio dan DVD. Boleh jadi,Rio menjadi peniup trumpet pertama di Indonesia yang merilis album dengan konsep seperti ini.

Selain membawakan ciptaan sendiri seperti “Barcelona”, “If”, Too Much to Forget”, “Autumn in Moscow”, “Oh Sayang” dan “On My Scooter”, Rio juga membawakan lagu “Whisper from God” yang ditulis Cha Agung Cahyadi, “Kesari” karya Eko Sumarsono, dan “Hope and Love” yang ditulis musisi lawas Igor Tamerlan.

Dengan penggarapan musik hingga suting dan editing video yang serius dan dipersiapkan dengan matang, sepertinya Rio ingin menunjukkan kalau ia punya kelas tersendiri. Walaupun awalnya dikenal banyak bermain untuk musik jazz, Rio sendiri tidak ingin mengkotak-kotakkan diri ke dalam satu genre musik. Baginya, musik yang ia mainkan di albumnya ini merupakan energi dari proses perjalanan hidupnya bermain musik. Untuk apa yang dimainkannya, Rio Sidik mendeskripsikannya dengan satu kalimat singkat, “My music is good music”.

sumber : http://mybalimusic.com/?p=1439